Widia Halo, saya seorang penulis! Menulis adalah salah satu cara saya komunikasi pikiran lewat tulisan.

Contoh Teknik Closing ‘Ya atau Ya’: Memastikan Keputusan Pembelian Cepat

2 min read

Contoh Teknik Closing

Customer udah tanya panjang lebar, minat kelihatan besar, bahkan nanya harga. Tapi begitu ditawari beli, jawabannya:

“Aku pikir-pikir dulu ya…”

Udah template banget ya kayak gini? Padahal kalau dipikir-pikir (lagi), mereka sebenarnya hampir siap beli. Yang kurang cuma dorongan kecil.

Nah, di sinilah teknik closing ‘Ya atau Ya’ masuk sebagai senjata rahasia. Teknik ini banyak dipakai sales profesional di lapangan maupun digital marketer jagoan buat menghindari dead-end conversation yang nggak berujung. Nggak percaya? Simak, deh!


Apa Itu Teknik Closing ‘Ya atau Ya’?

Sederhananya, ini teknik menutup penjualan dengan memberikan dua pilihan yang sama-sama mengarah ke pembelian. Artinya, bukan nanya “jadi beli atau enggak?”, tapi:

“Kak mau ambil paket A atau paket B?”

Pelanggan tetap merasa punya kontrol. Tapi secara psikologis, mereka terdorong untuk segera mengambil keputusan tanpa merasa dipaksa. Jadi ya apapun yang mereka pilih, mereka akan tetap membeli produkmu. Dan pastinya kedua belah pihak saling menguntungkan.

Baca juga: Strategi Customer Journey yang Bikin Pelanggan Nyaman dari Awal sampai Repeat


Menurut Sales Profesional: Kenapa Teknik Ini Manjur?

Brian Tracy, dalam bukunya The Psychology of Selling, menjelaskan bahwa otak manusia cenderung takut membuat keputusan salah. Memberi terlalu banyak pilihan malah bikin mereka diam.

Dengan teknik seperti ‘Ya atau Ya’, kamu menyederhanakan proses pengambilan keputusan. Dan ini bikin prospek lebih mudah menyelesaikan pembelian.

Sabri Suby, penulis Sell Like Crazy, bahkan menyebutkan bahwa sales closing bukan soal menjual, tapi soal “directing momentum” mengarahkan orang yang udah tertarik untuk segera ambil tindakan. Dan teknik ini jadi alat bantu yang sangat efektif.

Sales lapangan juga banyak yang pakai teknik ini ketika harus cepat ambil keputusan di tempat. Karena seringkali, kesempatan itu nggak datang dua kali.


Contoh Teknik Closing di Berbagai Skenario

Agar lebih praktis, berikut contoh teknik closing ‘Ya atau Ya’ di beberapa konteks:

Produk Retail:

“Mau ambil 1 atau langsung 2 pcs sekalian biar dapet free ongkir, Kak?”

“Kak mau yang model hoodie atau crewneck? Ukuran L ready dua-duanya.”

Jasa Konsultasi / Freelance:

“Mau coba sesi trial dulu atau langsung paket 3x sesi biar hemat?”

“Kita mulai dari yang basic dulu atau langsung ke premium biar lebih lengkap?”

Baca juga: Cara Membangun Brand Awareness Kuat dengan Pemasaran Melalui Media Sosial

Properti:

Minat unit yang sudah semi-furnish atau yang kosong total? Sama-sama ready.”

“Mau ambil promo DP 0% atau diskon 20 juta untuk yang cash keras?”

Chat WhatsApp Bisnis: 

“Mau saya proses order-nya sekarang atau siang ini, Kak?”

“Bisa saya kirim invoice hari ini, atau sekalian besok pagi dengan bonus?”

===

Tanpa ‘ngemis closing’, teknik ini bantu kamu mengunci transaksi dengan cara halus tapi strategis.

Teknik closing ini terlihat simpel, tapi dampaknya besar Pelanggan tetap merasa diberi pilihan, padahal kamu sedang mengarahkan mereka untuk ambil keputusan segera.

Dan kalau kamu pakai Woowa CRM, semua itu bisa kamu jalankan sambil tetap teratur. Follow up lebih rapi, leads nggak kelewat, dan proses closing jadi lebih cepat.


Tapi Jangan Asal Pakai, Timing Tetap Kunci

Menurut banyak praktisi sales, teknik ini harus muncul di momen yang pas, yaitu:

  • Ketika prospek sudah menunjukkan minat

  • Setelah value produk/jasa sudah dijelaskan

  • Saat sinyal beli mulai terlihat (misal nanya harga, ketersediaan, atau benefit)

Kalau dipakai terlalu cepat (misalnya saat orang baru tanya “ini apaan ya kak?”), ya wajar kalau malah dicuekin.

Baca juga: Gimana CRM dan Retensi Pelanggan Saling Berkaitan dan Jadi Kunci Repeat Order

Tips Memaksimalkan Teknik Ini

  1. Pilih dua opsi yang benar-benar menarik

    Jangan kasih pilihan yang tidak seimbang atau bikin bingung.

  2. Gunakan data dari CRM

    CRM bantu kamu tau minat calon pembeli, histori interaksi, dan waktu follow-up ideal.

  3. Latih tim CS-mu agar luwes

    Bukan cuma copy-paste skrip, tapi benar-benar bisa membaca situasi dan timing.


Closing Bukan Tentang Maksa, Tapi Tentang Arah

Teknik closing seperti ‘Ya atau Ya’ bukan soal menjebak, tapi soal membantu prospek mengambil keputusan lebih cepat dan nyaman. Dan ketika kamu punya data yang jelas tentang siapa yang harus dihubungi, kapan, dan dengan pendekatan seperti apa closing bukan lagi soal keberuntungan.

Itulah kenapa banyak tim sales dan CS yang pakai CRM bukan cuma buat nyatet kontak, tapi buat naikin konversi secara konsisten.

Kalau kamu pengen timmu bisa follow-up pakai teknik closing yang lebih terarah dan sistematis, Woowa CRM bisa jadi alat bantu yang pas.

Yuk lihat langsung cara kerjanya lewat link demo berikut:
👉 Klik di sini buat coba demo Woowa CRM

Widia Halo, saya seorang penulis! Menulis adalah salah satu cara saya komunikasi pikiran lewat tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *